Productive Procrastination itu nyata

Halo gaes, sekali kali lah ya ngomongin hal yang enggak terlalu teknis di blog ini.

Kali ini gue mau nyoba nulis tentang Productive Procrastination.

Pernah ga sih kalian merasakan, rasanya ada suatu pekerjaan yang berat banget rasanya, eh tapi setelah dikerjakan ternyata ringan banget dah.

Ini sering terjadi di diri saya, tapi apakah sebenernya memang pekerjaan itu ringan ?

Kalau di pikir-pikir sebenernya enggak. Maksud saya, kalau saya lgsg tau tau tackle kerjaan tersebut rasanya akan berakhir berat ?

Kenapa ?

Karena seringkali solusi yang terpikir oleh saya pada awalnya adalah solusi solusi yang terlalu kompleks.

Ini barusan terjadi. saya dapet task buat fix salah satu bug. saya udah kepikiran patch nya apa yang harus di rubah dari kodingan sebelumnya. dan patch awal yang terpikir oleh saya merubah cukup banyak bagian dari code dan akan memakan waktu cukup lama.

Saya menghabiskan seharian saya merasa task tersebut sangat berat. dan tidak melakukan apa apa. sampai akhirnya menjelang deadline. jam 02.45, saya tidak bisa tidur. dan saya takut jikalau tidur saya akan bablas dan justru akan menyusahkan orang yang harus melanjutkan task yang depend dari bug fix saya.

akhirnya dengan sisa sisa semangat saya mencoba mengerjakan bug tersebut yang saya pikirkan akan makan waktu sampai subuh. turns out.. saya cuma butuh waktu 15 menit untuk mengerjakan tersebut.

Apa yang berubah ? Kenapa bisa jauh lebih cepat dari estimasi saya ? apakah ternyata saya seorang software engineer yang lebih baik dan bisa implementasi solusi kompleks dengan cepat ?

itu akan jadi cerita yang keren, tapi sayangnya bukan. yang berubah adalah saya menemukan solusi yang jauh lebih simpel. dan kira kira hanya merubah < 20 baris kode dan tidak terlalu kompleks.

Diffuse Thinking Mode

Saya keingat di salah satu artikel yang pernah saya baca ada bahasan tentang diffuse thinking mode. ya itu mode berpikir yang berjalan ketika tidak sedang mengerjakan hal tersebut.

jadi menurut salah satu riset neuroscience, ketika kita memikirkan sesuatu yang sulit, ketika kemudian kita berhenti memikirkanya, kita tidak benar benar berhenti berpikir tentang sesuatu tersebut. tapi pemikiran kita tentang hal sulit itu berjalan di background otak kita.

Bedanya dengan pemikiran yang mode fokus seperti ketika pada saat kita sedang mengerjakan hal tersebut adalah, pemikiran mode fokus cenderung mengekang kita pada pemikiran yang rigid dan sistematis. ketika kita ingin memecahkan masalah, kita pasti mencari solusi dari cara yang biasa kita pakai, ini adalah mode fokus.

Tapi mode diffuse berbeda, mode diffuse lebih dekat terhadap kreatifitas, jadi memungkinkan kita untuk menemukan cara-cara baru dan pandangan baru terhadap suatu masalah. membuat kita menjadi problem solver yang lebih kreatif

Tapi mode diffuse juga punya syarat untuk dia bekerja, yaitu kita harus sudah memikirkan masalah terrsebut secara beberapa waktu. jadi ga bisa ya baca task atau liat soalnya doang kemudian langsung tinggal tidur.. itu mah namanya emang males. at least kita harus memikirkan dulu masalah tersebut.

It's oke untuk procrastinate sekali-sekali

Selama ini kita selalu mengangap procrastinate adalah sikap negatif dan kita selalu merasa negatif ketika melakukanya. Saya rasa stereotip itu lah yang membuat kita merasa negatif dan tidak produktif.

Jadi kesimpulan saya dari pengalaman saya ini adalah, ya it's oke untuk procrastinate sekali-sekali. dengan catatan minimal kita baca dan pelajari dulu task nya jadi ketika udah mulai bekerja, kita udah dapet solusinya.. biarkan otak kita yang super dan ternyata bisa memikirkan sesuatu di background ini bekerja.

Jadi, kalau ada yang bilang deadliner itu cenderung lebih kreatif. ada benarnya juga ya ! tapi ingat, ada beda procrastinate yang produktif dan yang emang gak peduli dan ya murni karena males aja gitu !


yak demikian lah kisah random saya kali ini, sampai jumpa di kisah random kisah random selanjutnya.